Dulu Dipandang Pinggiran, Kini SMPN 2 Adiwerna Diburu untuk Studi Tiru, Apa Rahasianya ?

Irwan Jaelani Kurniawan
By -

Slawiraya ( Slawi ) 

Sekolah yang dulu dianggap berada di pinggiran kini justru mulai dilirik sekolah lain.


SMP Negeri 2 Adiwerna, Kabupaten Tegal, perlahan membalik persepsi tersebut. Di tengah ketatnya persaingan mutu pendidikan, sekolah ini berkembang menjadi salah satu sekolah yang menarik perhatian untuk dijadikan lokasi studi tiru.  Di balik perubahan itu ada sosok Kepala SMPN 2 Adiwerna, Muhajirin, S.Pd., M.Pd.

Sejak memimpin sekolah tersebut pada 2021, Muhajirin membawa pola manajemen yang menempatkan disiplin, karakter, digitalisasi, prestasi dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu sekolah.


Ia ingin sekolah menjadi tempat yang membuat siswa nyaman, guru bekerja dengan bahagia, sekaligus mendorong lahirnya prestasi.

Salah satu kebijakan yang paling sederhana, tetapi menjadi perhatian, adalah soal kedisiplinan. Muhajirin tidak ingin aturan hanya berlaku untuk siswa, Guru justru harus menjadi contoh pertama.

Guru yang mendapat jadwal piket diwajibkan hadir lebih awal dan menyambut siswa di gerbang sekolah. Kebiasaan tersebut dibangun untuk menciptakan budaya disiplin sejak siswa memasuki lingkungan sekolah.

“Kalau kita ingin siswa disiplin, gurunya dulu yang harus memberi contoh. Kami hilangkan budaya telat,” ujar Muhajirin, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, perubahan budaya sekolah tidak cukup hanya dengan membuat aturan.

Keteladanan menjadi kunci.


SMP, tetapi Siswa Mulai Dikenalkan Dunia Vokasi, Strategi lain yang diterapkan Muhajirin adalah memperkenalkan siswa pada dunia keterampilan dan vokasi sejak bangku SMP.

SMPN 2 Adiwerna menggandeng SMK untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan dunia keterampilan, Siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran teori, tetapi juga dikenalkan dengan kewirausahaan, coding dasar hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan limbah plastik untuk diolah menjadi bahan pembuatan paving. 

      

Bagi Muhajirin, sekolah harus mampu membuka wawasan siswa mengenai berbagai kemungkinan masa depan mereka.


Di SMPN 2 Adiwerna, kegiatan ekstrakurikuler juga diarahkan menjadi ruang untuk membangun prestasi.

Pramuka, Paskibra, seni tari dan klub sains menjadi beberapa kegiatan yang terus dikembangkan, Hasilnya mulai terlihat dari sejumlah prestasi yang diraih siswa.

Dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya Juara 1 LKIR tingkat Kabupaten Tegal 2025, Juara 2 FLS2N Tari Kreasi tingkat Provinsi Jawa Tengah 2024, Juara Umum Jambore Pramuka Kwarcab Tegal 2023, Juara 3 lomba konten video pendek kategori SMP 2024, serta Juara 3 MAPSI tingkat SMP 2025.

Prestasi tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan sekolah untuk menunjukkan bahwa pengembangan mutu tidak hanya berorientasi pada akademik.

Sekolah Menggandeng Orang Tua, Alumni hingga Desa

Muhajirin juga menyadari bahwa sekolah tidak mungkin berkembang jika bekerja sendirian, Karena itu, ia mendorong keterlibatan orang tua, alumni dan pemerintah desa melalui Forum Komite Aktif.

Konsepnya adalah membangun sinergi antara sekolah dengan lingkungan sekitar. “Sekolah tidak bisa hebat sendirian. Kami rangkul semua,” kata Muhajirin.

Kerja sama tersebut juga diarahkan pada program sosial. Salah satunya melalui dukungan BAZNAS Kabupaten Tegal untuk membantu siswa yatim dan kurang mampu. Muhajirin menyebut sekitar 25 siswa mendapat manfaat beasiswa dari program tersebut.

Administrasi Sekolah Ikut Berubah

Transformasi tidak hanya terlihat dari kegiatan siswa, Sisi administrasi juga mulai didorong ke arah digitalisasi, Administrasi, presensi hingga rapor telah diarahkan menggunakan aplikasi.

Bagi Muhajirin, digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagian dari upaya membuat tata kelola sekolah lebih tertib dan efisien.

Dampak perubahan tersebut salah satunya terlihat dari tingginya minat masyarakat. Muhajirin mengatakan jumlah pendaftar peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 mencapai sekitar 120 persen dari kuota yang tersedia. Bahkan, setiap tahun sekolah disebut harus menolak lebih dari 60 calon siswa karena keterbatasan daya tampung.

“Setiap tahun kami harus menolak lebih dari 60 calon murid baru. Itu bukti kepercayaan masyarakat sangat tinggi pada SMP Negeri 2 Adiwerna,” ujarnya. Tingginya minat tersebut menjadi salah satu gambaran perubahan citra SMPN 2 Adiwerna di mata masyarakat. Dari sekolah yang dahulu dipandang sebelah mata, kini justru menjadi sekolah yang diburu calon siswa.

Dari Guru IPS hingga Kandidat Kadisdikbud


Perjalanan Muhajirin sendiri cukup panjang, Pria kelahiran Tegal tahun 1971 tersebut memulai karier sebagai guru IPS di SMP Negeri 1 Slawi. Pada 2010–2011, ia dipercaya menangani kelas Imersi dan kelas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Dari pengalaman tersebut, kemampuan manajerialnya kemudian terus berkembang.

Muhajirin selanjutnya dipercaya memimpin sejumlah sekolah, di antaranya SMP Negeri 2 Margasari, menjadi Plt. SMP Negeri 2 Balapulang, dan kemudian Kepala SMP Negeri 2 Adiwerna. Ia juga merupakan lulusan Pascasarjana UNNES pada bidang Pendidikan Bahasa dengan predikat cumlaude.

Kini, pengalaman sekitar 29 tahun di dunia pendidikan membawanya mengikuti seleksi JPT Pratama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.

Muhajirin mengatakan, keikutsertaannya bukan semata soal jabatan. Ia mengaku ingin membawa pengalaman dan gagasan yang selama ini diterapkan di sekolah ke ruang pengelolaan pendidikan yang lebih luas.

“Saya sudah 29 tahun di dunia pendidikan. Saya ingin ide-ide yang selama ini diterapkan selama menjadi kepala sekolah bisa diterapkan di seluruh Tegal,” katanya.

Muhajirin juga menegaskan bahwa dirinya mengikuti proses tersebut dengan membawa gagasan dan rekam jejak yang dimilikinya.

“Saya tidak punya beking, yang saya punya hanya gagasan dan rekam jejak. Silakan publik yang menilai,” pungkasnya. 


Pada akhirnya, perjalanan SMPN 2 Adiwerna menunjukkan satu hal: perubahan citra sekolah tidak selalu dimulai dari fasilitas yang mewah.

Bisa jadi, perubahan itu dimulai dari hal sederhana—guru datang tepat waktu, menyambut siswa di gerbang, mendengar kebutuhan mereka, lalu membangun sekolah bersama-sama. (***)


Tags: