Krisis Air Bersih di Tegal: Bantuan Darurat Datang, Infrastruktur Jadi Tantangan

Irwan Jaelani Kurniawan
By -

Slawiraya ( Slawi ) 

Sudah tiga bulan warga Dukuh Tras, Desa Prupuk Selatan, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, berjibaku dengan sulitnya mendapatkan air bersih. 

Sebagian warga bahkan terpaksa pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih akhirnya mulai disalurkan setelah pemerintah desa mengajukan permohonan hingga tiga kali. 


Pemerintah Kabupaten Tegal menyalurkan bantuan air bersih ke enam titik terdampak kekeringan pada Selasa (20/10/2026). Bantuan tersebut melibatkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Perumda Air Minum (PDAM), dan Palang Merah Indonesia (PMI). 

Sekretaris Desa Prupuk Selatan, Sri Sulastri, mengungkapkan bahwa kekeringan semakin menyulitkan warga, terutama di Dukuh Tras. Sumber air yang biasa dimanfaatkan masyarakat mengering, sementara fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) mengalami kerusakan. 

“Ini sudah ketiga kalinya kami mengajukan permohonan bantuan air bersih,” ungkap Sri Sulastri. 

Menurutnya, warga yang tidak memiliki sumur sendiri harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sungai menjadi salah satu tempat yang terpaksa didatangi warga untuk mencuci pakaian dan keperluan lainnya.  

Enam Wilayah Terdampak Kekeringan
Permohonan bantuan air bersih diajukan Pemerintah Desa Prupuk Selatan pada 14 Oktober 2026. Bantuan kemudian direalisasikan pada 20 Oktober 2026, termasuk pengiriman air menggunakan tangki PDAM berkapasitas 5.000 liter dan PMI berkapasitas 4.000 liter. 

Enam titik yang tercatat terdampak kekeringan meliputi: 

Karanganyar: RT 002–003/RW 001.
Karanganyar: RT 003–004/RW 008.
Dukuh Tras: RT 003–004/RW 002.
Sidamulya: RT 004–006/RW 003.
Arjasari Wetan: RT 002/RW 003.
Taman Mekar: RT 005/RW 005. 

Berdasarkan data permohonan pemerintah desa, jumlah keluarga terdampak di setiap wilayah berkisar antara 125 hingga 298 kepala keluarga (KK).  

Sumur Bor Jadi Harapan Warga
Bantuan air bersih yang disalurkan dinilai membantu meringankan beban masyarakat. Namun, persoalan ketersediaan air belum sepenuhnya selesai karena warga masih membutuhkan sumber air yang dapat diandalkan dalam jangka panjang. 

Salah seorang warga Dukuh Tras, Siti Nur Fatimah, mengatakan kesulitan air bersih telah dirasakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir. 

Warga yang tidak memiliki sumur pribadi terpaksa mengandalkan sumur di mushola. Masalahnya, sumur tersebut terkadang juga mengalami kekeringan ketika digunakan bersama-sama. 

“Kalau untuk kebutuhan air bersih, kami sangat membutuhkan. Selama ini, untuk mandi dan mencuci, sebagian warga masih harus pergi ke sungai,” kata Siti. 

Ia berharap bantuan pemerintah tidak berhenti pada pengiriman air tangki, tetapi dilanjutkan dengan penyediaan sumber air bersih yang lebih permanen. Jangan Sampai Warga Terus Bergantung pada Tangki Air 

Pemerintah Desa Prupuk Selatan berharap adanya pembangunan sumur bor di sejumlah lokasi, terutama di wilayah Sidamulya dan titik lain yang belum memiliki sumber air memadai. 

Selain itu, pemerintah desa tengah mengupayakan perbaikan fasilitas Pamsimas di Dukuh Tras melalui dukungan anggaran yang telah diperoleh. 

Penyediaan infrastruktur air bersih dinilai penting agar masyarakat tidak terus menghadapi persoalan serupa setiap kali musim kemarau tiba.


Penyaluran bantuan air bersih menjadi langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun, keberlanjutan akses air bersih tetap menjadi pekerjaan penting agar masyarakat tidak harus kembali mencari air ke sungai atau menunggu kiriman tangki ketika sumber air mengering. 

Kini, warga Prupuk Selatan berharap bantuan darurat tersebut menjadi awal dari solusi permanen, bukan sekadar penanganan sementara setiap musim kemarau (***) 
Tags: