Jalesveva Jayamahe: Nelayan Tegal Tak Berdaya, 1.000 Kapal Dilaporkan Tak Melaut

Irwan Jaelani Kurniawan
By -


Slawiraya ( Slawi ) 

Jalesveva Jayamahe, yang berarti “Justru di Laut Kita Jaya”, merupakan semboyan TNI Angkatan Laut. Namun, bagi sebagian nelayan tradisional di Kabupaten Tegal, laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan justru semakin sulit diandalkan. Sekitar 1.000 kapal nelayan kecil dilaporkan tidak bisa melaut akibat kesulitan mendapatkan solar subsidi.

Kondisi tersebut terjadi di sepanjang aliran sungai dari Jembatan Surodadi hingga Bojongsana. Akibatnya, sekitar 2.000 nelayan terancam kehilangan penghasilan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.

Baca Juga : https://www.slawiraya.com/2026/09/lomba-kampung-nusantara-jadi-penggerak.html

Sarki (50), nelayan sekaligus pemilik kapal asal Desa Bojongsana, mengatakan aktivitas melaut telah terhenti hampir satu bulan karena solar subsidi di SPBU sebelah barat Jembatan Surodadi tidak tersedia.

“Semua nelayan tidak bisa melaut, Pak. Kapal-kapal terpaksa menganggur,” ungkapnya.

Menurut Sarki, para nelayan tidak mengetahui secara pasti penyebab terhentinya pasokan bahan bakar tersebut. Mereka juga telah mencoba mencari solar ke SPBU Peleman dan Babatan, tetapi belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

“Kami tidak tahu masalahnya apa. Sudah hampir satu bulan solar tidak ada. Mau beli ke SPBU lain juga tidak mendapatkan,” katanya.

Padahal, para nelayan mengaku sudah memiliki Kartu Nelayan. Namun, kepemilikan kartu tersebut belum menjamin mereka mendapatkan solar subsidi untuk menjalankan aktivitas melaut.

Nelayan Terpaksa Berutang

Terhentinya aktivitas melaut membuat kehidupan keluarga nelayan semakin sulit. Sarki mengaku mengandalkan bantuan anaknya yang bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk kebutuhan sehari-hari, kami hidup seadanya. Saya mengandalkan bantuan anak yang bekerja di luar negeri. Kalau tidak ada bantuan, terpaksa mencari pinjaman untuk makan, itu pun kalau ada yang mau memberi pinjaman,” tuturnya.

Selain kesulitan mendapatkan solar, nelayan juga mengeluhkan keberadaan kapal yang diduga menggunakan pukat harimau. Alat tangkap tersebut dinilai merugikan nelayan tradisional karena jaring dan badong untuk menangkap rajungan disebut hilang atau rusak.

“Yang kami cari itu ikan dan rajungan. Namun, kami khawatir alat tangkap rusak atau hilang akibat pukat harimau,” ujarnya.

Sarki mengaku pernah kehilangan jaring yang telah dipasang untuk menangkap ikan. Badong yang digunakan untuk menangkap rajungan juga disebut hilang.

“Jaring yang sudah saya pasang terkadang hilang. Badong juga begitu. Kondisi ini jelas merugikan nelayan kecil,” katanya.

Keluhan tersebut membutuhkan pemeriksaan langsung dari instansi berwenang untuk memastikan jenis alat tangkap yang digunakan dan kemungkinan pelanggaran aturan perikanan.

Menunggu Langkah Pemerintah

Para nelayan berharap pemerintah segera memberikan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Mereka meminta pasokan solar subsidi kembali tersedia bagi nelayan yang memenuhi persyaratan serta meminta dugaan penggunaan pukat harimau ditindaklanjuti sesuai ketentuan.

“Harapan kami, pasokan solar segera normal kembali supaya bisa melaut. Untuk pukat harimau yang merugikan nelayan kecil, kami berharap ada tindakan tegas agar kami bisa mencari ikan dengan tenang,” tegas Sarki.

Baca Juga : https://www.slawiraya.com/2026/09/tiga-tangki-air-mengalirkan-kepedulian.html

Di tengah semangat Jalesveva Jayamahe, persoalan nelayan Tegal menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya tentang kejayaan, tetapi juga sumber kehidupan masyarakat pesisir.

Ketika kapal-kapal bersandar dan nelayan kehilangan penghasilan, keluarga mereka ikut menanggung dampaknya. Kini, mereka menunggu langkah nyata pemerintah agar dapat kembali melaut dan memenuhi kebutuhan hidup. (***)

Tags: